Sabtu, 27 Desember 2014

Masih ada orang yang memperhatikanmu

Jika mempunya masalah dengan seorang pemilik hati, dan datang dimana hari yang mebuat kalian merasa menjadi orang yang tidak ingin melakukan apa-apa. Kalian bisa membaca cerita dibawah ini, entah bisa membuat kalian merasa lebih baik atau tidak.


Pagi itu, otong berangkat sekolah sambil membawa nampan berisi gorengan yang dimasaknya subuh tadi. Dengan riang gembira dia melangkah menuju sekolah. Otong kecil sudah hidup sebatang kara. Ibunya meninggal saat melahirkannya, sedangkan ayahnya meninggal saat dilahirkan.

Otong berjualan gorengan demi menghidupi diri dan membayar sekolah. Teman-temannya ada yang mendukung ada juga yang mencibirnya. Tapi prinsip Otong; dia nggak bakal ngedengirin komentar pedas orang-orang yang nggak pernah memberinya nasi. Otong sudah terbiasa hidup sendiri, itulah kenapa dia tak mudah diintimidasi.


Sebelumnya, Otong tinggal di panti asuhan sampai berumur 10 tahun. Lalu dia mulai belajar hidup mandiri dan tinggal di rumah almarhum orang tuanya dulu, dengan bekal ilmu mengurus diri yang diajarkan di panti asuhan.

Menurut ajaran pengurus pantinya, manusia harus bisa menyaring perkataan orang lain kalai mau kehidupannya maju. Terlalu banyak mendengarkan omongan orang, akan menggiring kita menjadi sesuata yang jauh dari sejatinya kita sendiri. Alhasil, kita Cuma jadi “wayang” yang dikendalikan orang. Ya, petuah itu membuat Otong lebih pedulu dengan apa yang dia jalani dan rasakan daripada apa kata orang.

Pernah Otong di-bully oleh kakak-kakak kelasnya di SD. Saat dia berjualan, para berandalan itu mencicipi gorengannya satu-satu. Mereka gigitin satu-satu gorengan itu, lalu dibalikin ke nampan sambil bilang, “Ah! Gorenganmu nggak enak! Males beli, ah!” Otong tak mau marah dengan kejadian itu karena baginya amarah tak mampu menyelesaikan masalah dan hanya akan membuatnya lebih parah.

Otong hanya diam, sambil doain para berandalan itu mengalami sariawan di pantat. Yang dia tidak tau, dari kejauhan ada seorang cewek yang memerhatikannya sambil tersenyum penuh haru.

Memasuki SMP, Otong  mencoba pakai strategi lain dalam berjualan gorengan. Dia menditipkan gorengnnya di kantin sekolah dengan pembagian laba 75%:25%. Setiap pulang sekolah, dia mengambil uang  hasil penjualan gorengan di kantin. Anehnya, setiap mengamil duit dan nampan wadah, selalu ada 10 gorengan tersisa. Padahal dari jumlah uang yang dia terima, harunya gorengannya habis semua. Awalnya Otong nanya ke mbak-mbak kantin, “ini uangnya kebanyakan,ya, mbak? Gorenganku masi sisa, tuh”

Mbak kantin cuma jawab, “Iya. Tadi ada yang beli, udah bayar, tapi nggak jadi ngambil gorengannya. Nggak tau..., mungkin dia buru-buru.”

Anehnya, hal itu terjadi berulang kali. Masa iya setiap hari ada aja yang terlalu buru-buru untuk mengambil gorengannya? Tapi, Otong nggak mengambil pusing, yang penting oemasukannya lancar.

Memasuki jenjang SMA, Otong masih berjualan gorengan, tapi caranya udah beda. Walaupun jualan gorengan, dia tetap mengikuti zaman. Kalau dulu dia jualan gorengan di kelas dan kantin, sekarang dia jualan gorengan via Instagram. Jadi, tiap ada orang up-load foto makanan di Instagram, Otong bakal ngasih komen; “Cek IG aku,ya, kak. Ada gorengan gurih dan lezat buat nemenin makan Kakak hari ini J

Menu Gorengan Otong pun variatif. Ada gorangan rainbow, cupcake goreng, eskrim goreng, dan donat goreng. Tentunya dengan menu se-variatif dan seunik itu, daganan Otong jadi laris manis.

Dalam bisnisnya, Otong mendapatkan banyak sekali pelanggan tetap, tapi di antara pelanggan-pelanggan itu, ada satu pelanggan yang cukup aneh sikapnya. Pelanggan itu bernama Depi. Akun Instagramnya @DePiee_CuuTeEzz. Cewek itu suka mesen gorengan yang ada di Instagram Otong via SMS. “Permisi, aku pesan rainbow gorengan 20 ribu, ya. Uangnya udah aku transfer via Paypal.”

Kenap via Paypal? Karena Depi tinggal di Dubai. Saat Otong minta alamat Depi untuk mengirimkan gorengannya via FedEx, Depi selalu menolak. Jawan Depi selalu seperti ini, “Nggak usah dikirim, itu aku beli buat kamu, kok. Aku Cuma mau mastiin kamu nggak kelaperan hari ini.”

Otong dibikin bingung sama pelanggannya yang satu itu, tapi karena  kesibukan dan kesuksesan yang sedang dikejarnya, dia mencoba untuk tidak begitu memikirkan siapa Depi sebenarnya. Otong kembali fokus kepada kerjaannya.

Hari-hari berlalu, bulan dan tahun berganti. Saat lulus SMA Otong tetap sibuk mengurusi pekerjaanya, dan Depi tetap rutin meng-order gorengannya sambil bilang. ”Nggak usah dikirim, itu aku beliin buat kamu, kok. Aku cuma mau mastiin kamu nggak kelaperan hari ini.”

Lama-lama usah Otong makin maju. Omset dari jualan gorengannya udah miliaran. Instagram Otong isinya bukan cuma gorengan lagi, tapi lebih banyak foto-foto dia yang lagi jalan-jalan ke luar negri, koleksi mobil-mobil mewah, dan rumah Otong yang luar biasa besarnya.

Rumah itu terlalu besar untuk ditinggali sendirian. Ruang tamu 10 hektar, Ruang tidur 2 hektar, dan TV 14 inch. Dengan begitu untuk jalan dari ruang tamu sampe ke dapur, pembantunya terpaksa harus naik metromini.

Tampaknya, Otong mulai lupa bagaimana kehidupan masa lalunya. Apa yang dia lakukan sekarang cuma sekedar mengejar kesenangan . hilang sudah sosok Otong yang sederhana. Yang ada sekarang adalah sosok yang sedang ”balas dendam” pada kejamnya hidup di masa lalu.

Sayangnya, cepat atau lambat mengejar kesenangan akan menemui titik jenuhnya. Titik jeunh itu datang saat semua hambar dan sis-sia. Tak ada lai makanan yang terasa enak karena sudah terbiasa makan enak. Tak ada lagi rasa syukur karena hambir lupa rasanya hidup kekurangan. Semua kemewahan yang dirasakan Otong benar-benar jadi pemicu kehambaran.

Saat sara jambar menyapa, Otong teringat kebahagian-kebahagian kecil yang dulu dia dapatkan setiap harinya. Salah satunya adalah kalimat, “Aku cuma mau mastiin kamu nggak kelaperan hari ini”

Dia baru ingat, perhatian kecil dari orang asing itujuga ikut hilang semenjak Otong hanyut dalam kesenangan dan kemewahan. Memang sepele, tapi sekecil apapun sebuah perhatian, kalau hal itu rutin dilakukan, akan berubah menjadi candu bagi orang yang mendapatkannya.

Didorong rasa kegulangan, untuk kali pertamanya Otong men-stalking Instagram Depi, tapu di sana yang ada cuma foto-foto gorengan. Tidak ada foto wajah Depi. Otong bingung, gimana caranya menemukan orang yang dia sendiri tidak tau wujudnya? Dalam hati, dia membatin, ternyata perasaan semacam ini ada, ya? Bagaimana mungkin aku bisa merasa kehilangan sesuatu yang bekum pernah aku miliki?

Berbulan-bulan Otong mencoba mencari tau dimana Depi, tapi tak ada hasil. Nomor Depi yang biasanya dipake untuk mesen gorenganpun tak bisa dihubungi. Kata operatornya, nomor itu sudah tidak terdaftar. Otong merasa hidupnya semakin kehilangan warna.

Segala kemewahannya hanyalah penghasil tawa, bukan bahagia. Tawa bisa hilang dalam hitungan detik, sedangkan bahagia bisa selalu diingat dan membuat hati terasa hangat.

Terperangkap rasa putus asa membuat Otong mencoba melakukan hal nekat. Dia ingin kembali menjadi dirinya yang dulu. Harapannya adalah mendapatkan hidup yang lebih berwarna sekali lagi. Mengalami lagi sebuah “petualangan”. Bukan hanya sekedar kesenangan. Dia jual semua benda mewah yang dimiliknya. Rumah, mobil, tanah, dan semua harta benda. Lalu uangnya disumbangkan ke panti asuhan tempat dimana Otong pernah tinggal.

Praktis, Otong tidak punya apa-apa lagi kecuali tujuan hidup. Kali ini,. Dengan sedikit uang yang tersisa, dia gunakan untuk mencoba usaha baru; jualan parfum. Kenapa Otong tidak mau jualan gorengan lagi? Karena Otong sudah sukses di bidang itu. Dia nggak mau melakukan hal yang sama, petualangan yang sama dan kesuksesan yang sama.

Otong jualan parfum via web pribadi Twitter dan Facebook. Dia berjualan seperti dulu, dengan harapan bisa merasakan indahnya meniti karir seperti waktu dulu. Suatu sore, Otong mendapatkan orderan parfum via SMS, ”Mas, aku pesan pardum Hugo Boss Trully Bossy,ya.”

Otong pun menjawab, “Oke, Bro, nanti setelah Anda transfer, berangnya akan saya kirim.” Pembeli itu membalas lagi, “Kok’Bro?’ Saya cewek, lho..., hehe.”
Otong buru-buru minta maaf, “Maaf,Mbak. Saya kira Anda cowok, soalnya itu parfum untuk cowok. Maaf...”
SMS itu berbalas lagi, “Haha. Gapapa. Uangnya sudah aku transfer,ya. Parfumnya nggak perlu dikirim. Aku cuma mau mastiin, kamu wangi hari ini, dan saat ketemu aku nanti. ;)”

SMS itu membuat senyum simpul penuh kebahagiaan yang sudah lama tak muncul di bibir Otong merekah. Otong pun menjawab, “Terima kasih. Dari kamu aku jadi belajar: Hidup tanpa punya apa-apa memang pedih, tapi lebih pedih lagi kalau hidup tanpa punya siapa-siapa. Terima kasih, Depi. J

0 komentar:

Posting Komentar