Sebuah tulisan yang ditulis pada suatu malam yang amat sunyi.
"Kadang kita nggak sadar sudah menunggu selama apa untuk bertemu dengan orang yang tepat."
Gue gak pernah ngerti gimana seseorang bisa jatuh cinta. Hal-hal seperti itu bisa semudah melempar senyum, lalu melayangkan jabat tangan, kemudian bertukar nama. Ada juga yang gak berdaya membendung cinta yang berhasil masuk perlahan ke dinding-dinding hati akibat kebiasaan-kebiasaan yang tidak disengaja dilakukan bersama. Bahkan, ada yang bersusah payah untuk jatuh cinta dengan menunggu..., entah berapa lama, akhirnya masing-masing dari diri mereka menyadari kalau itu adalah cinta.
Namun, ada satu kesimpulan yang bisa gue ambil dari beberapa hal yang gue bingungkan tadi. Semuanya membutuhkan kesempatan. Kesempatan butuh keadaan. Sayangnya, banyak cinta yang mati karena keadaan, sering menyamar dalam bentuk kenyataan, keyakinan, atau sekedar pertemanan.
Mungkin, sama banyaknya dengan cinta yang harus mati karena keadaan, banyak juga cinta yang justru hidup karena keadaan. Jadi, rasanya terlalu picik jika orang tak memberikan kesempatan untuk cinta yang baru saja lahir dan masih tumbuh. Membunuhnya dengan kata-kata "Maaf, tapi menurut aku ini kecepetan" - "Yaudah, jalanin dulu aja" hanyalah akal-akalan mereka yang tak punya perasaan yang sama, hanya supaya nggak terlalu keliatan berdosa.
Percayalah, orang yang tepat itu akan datang.
Kadang, sepasang orang membutuhkan terlalu lama waktu untuk menyadari bahwa sebenarnya yang mereka butuhkan sudah ada didepan mata. Hanya saja, mereka terlalu terfokus untuk mengejar yang diinginkan. Sama halnya seperti seorang anak. Seorang anak menyukai banyak hal. Mereka suka berlari, melompat, bahkan terbang. Itu semua yang mereka inginkan.
Namun, ketika mereka terpeleset, terjatuh, bahkan terjerembab, siapa yang mereka butuhkan? Ibu, atau minimal sebuah pelukan. Anak-anak harus merasakan yang namanya terjatuh, harus merasakan yang namanya luka, dan menangis dulu untuk bisa merasakan bagaimana hangatnya sebuah pelukan.
Begitu juga yang terjadi pada kebanyakan orang. Terlalu senang mengejar-ngejar yang diinginkan. Sampai dibutakan mana yang sebenarnya dibutuhkan. Namun, itu tidaklah salah. Kalau nggak begitu, kita nggak akan merasakan luka dan nggak tau sebagaimana menyembuhkannya sebuah "Obat". Kalau kita nggak pernah salah, kita nggak akan bisa bertemu dengan orang yang tepat.
Jika dilihat lebih tulus, semua yang dibutuhkan nggak begitu rumit. Kita pasti ingin bersama mereka yang selalu memberikan kesempatan kepada kita untuk menjadi diri sendiri. Kita pasti ingin menghabiskan hari dengan orang yang cukup dengan menggenggam tangannya saja, kita merasa sanggup menghadapi dunia.
"Kita pasti ingin hidup dengan seseorang yang cukup dengan menatap matanya saja sudah merasa seperti dirumah"
Kita hanya ingin terlelap dipelukan seseorang bermata teduh yang melenyapkan segala jenuh, menggantikan semua rasa lelah. Pada akhirnya, kita hanya ingin terjatuh pada mereka yang meski penuh luka, tapi dipertemukan untuk saling menyembuhkan.

0 komentar:
Posting Komentar